tinggal di kota besar seperti jakarta atau surabaya bisa membentuk pribadi kita. kita bisa menjadi sesosok manusia karena terbentuk dari lingkungan kita..for example, saya terbentuk menjadi orang yang mau semua serba cepat karena setiap hari saya diharuskan bekerja serba cepat. gak ada waktu bersantai di pinggir pantai ato sekedar nglesot di angkringan. saya harus bangun pagi, kalau lebih siang sedikit saja..kacau semua! saya harus ngebut..karena range waktu dari satu tempat ke tempat lain sangat mepet, itu harus dilakukan karena di surabaya semua orang berangkat kerja di jam yang hampir bersamaan, saya harus berebut dengan para PNS, orang bank dan anak sekolah..wihhhh!! saingan saya banyaaaakkkk bgt! semua berlomba untuk cepat-cepat sampai tempat tujuan. terkadang suka ngeri sendiri membayangkan hiruk-pikuk kota besar.
sempat terpikir untuk cari kerja di tempat yang lebih tenang..yang lebih santai. kebetulan beberapa minggu yang lalu saya mengirim lamaran kerja ke Mandara Spa Bali, gak diterima sih..tapi saya ditawarkan bekerja di Mandara Spa Palau dekat Filipina, jelas-jelas ditolak karena bunda saya masih belum mampu jauh-jauh dari anak perempuan satu-satunya..kebetulan kemarin saya dan bunda lihat liputan tentang Palau di Discovery Travel and Living channel.
Satu kata..WOW!!!
Disana benar-benar tenaaaaaannngggg....gak ada klakson bersahutan, Palau dikelilingi pohon-pohon rindang, pantai..gubuk-gubuk per istirahatan!! benar-benar impian saya bisa bersantai di tempat seperti itu..
waktu saya utarakan penyesalan karena menolak ke palau..bunda saya bilang "yakin betah tinggal di tempat sepi seperti itu??"..DEHG!! bener juga ya? saya yang sejak kecil terbiasa hidup di kota yang penuh hiruk pikuk dan terburu-buru, apa bisa hidup dan betah lama untuk tinggal dan bekerja di tempat se-sepi Palau..
hmm..kota ini dan hiruk-pikuknya sudah membentuk kepribadian saya. kamu gimana??
A Little Piece of Mine
Tuesday, April 5, 2011
Saya bukan pemilih
teman-teman saya bilang.."jangan jadi pemilih" atau "kamu terlalu picky"
lho..saya ini bukan pemilih, saya cuma terlanjur sayang sama satu orang..terlalu setia katanya. padahal tante saya sudah pernah bilang, jangan pacaran cuma sama satu orang..biar kalo ditinggal masih ada cadangannya. yaaahhh..masalahnya saya gak bisa gitu, saya bukan tipe cewek yang seperti itu.
akhirnya..sendirilah saya sampai detik ini,tetap mengharapkan orang yang mungkin tidak akan mau bersama saya lagi.
sepertinya memang harus menyesuaikan keadaan..keadaan bahwa sekarang saya tidak boleh menutup hati lagi dari perhatian pria-pria itu, berhenti bersikap setia menunggu dia untuk kembali sama saya..tapi semua butuh proses. semoga saja proses ini bisa terlewati dengan baik.
buat kamu..bebi ku, pria yang pernah sayang sama saya, semua kebaikan itu membuat saya susah lupa, memang sekarang suka sedih mengingatnya.. tp one day saya yakin, kita bisa duduk berdua ditemani capucinno dan kopi hitam favoritmu dan menertawakan masa lalu kita berdua..
lho..saya ini bukan pemilih, saya cuma terlanjur sayang sama satu orang..terlalu setia katanya. padahal tante saya sudah pernah bilang, jangan pacaran cuma sama satu orang..biar kalo ditinggal masih ada cadangannya. yaaahhh..masalahnya saya gak bisa gitu, saya bukan tipe cewek yang seperti itu.
akhirnya..sendirilah saya sampai detik ini,tetap mengharapkan orang yang mungkin tidak akan mau bersama saya lagi.
sepertinya memang harus menyesuaikan keadaan..keadaan bahwa sekarang saya tidak boleh menutup hati lagi dari perhatian pria-pria itu, berhenti bersikap setia menunggu dia untuk kembali sama saya..tapi semua butuh proses. semoga saja proses ini bisa terlewati dengan baik.
buat kamu..bebi ku, pria yang pernah sayang sama saya, semua kebaikan itu membuat saya susah lupa, memang sekarang suka sedih mengingatnya.. tp one day saya yakin, kita bisa duduk berdua ditemani capucinno dan kopi hitam favoritmu dan menertawakan masa lalu kita berdua..
Biarkan dewasa itu jadi pilihan, bukan kewajiban.
Menjadi dewasa itu pilihan. Yang menjadi kepastian itu kalo kita jadi tua. Being 24 is in the front of the “Gate of adultness”. Ada banyak hal yang akan kita tinggalkan setelah lepas dari masa remaja. If we still remember it, when we was a teenager we were so bubbly, happy, fun and simple. Belum puas saya menikmatinya, eeeehhh…datanglah si factor “U” , UMUR. Diumur segini, saya masih merasa banyak hal yang bisa saya eksplorasi, saya masih bisa mencoba banyak hal..masih mau nakal, senang – senang dan having fun. Tapi buat orang disekelilingi saya, umur segitu sudah pantas di tanyai , “kapan married?”..”sudah punya calon belum?”. Saya belum punya calon…masih dalam tahap recovery. Saya belum punya pasangan, karena saya masih memikirkan 1 orang. Dia menyenangkan sekaligus menyebalkan. Aaaahhhh…saya dulu gak begini lho. Kalo putus, ya udah putus aja. Gak pake menangis berlama-lama lalu VOILA! Sudah dapat cowok baru! Hahahaha…sekarang, saya susah melakukan hal yang sama. Bukan saya yang gak mau lho..tapi memang gak bisa. Laki- laki itu sudah penuh sesak di hati saya.Coba klo saya masih jadi remaja..I DON’T CARE AT ALL! Aaaaaahhh….I miss being teenager! Hehehehe. Menyenangkannya jadi remaja, saya gak pernah main hati waktu itu. Gak pernah sepenuh hati mencintai orang lain. Gak pernah pusing memikirkan hal-hal lain selain diri saya sendiri. Bahagianya masa itu lama-lama tergerus pekerjaan, tanggung jawab dan tuntutan lingkungan untuk, harus dan WAJIB bersikap dewasa. Padahal saya belum puas..even though I look mature outside, still I have my childish part inside it. Saya benci dituntut untuk jadi dewasa, saya masih KANAK-KANAK! Saya mau menikmati hidup saya seperti dulu. Gak mikir aneh-aneh..jadi tolong, berhenti bertanya, apa saya sudah punya calon suami? Kapan saya mau married?. Biarlah Tuhan yang atur hidup saya. Biar Tuhan yang tentukan, hidup saya sudah penuh stress dengan kerjaan dan masalah lain..jangan ditambah lagi dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Saya sedang belajar meyakinkan diri saya bahwa Tuhan sudah siapkan jodoh, lelaki yang nantinya akan memeluk saya, menciumi saya sampai tua..sampai nanti Tuhan pula yang pisahkan kami. Sampai saat itu tiba, kuatkan hati saya ya Tuhan?hehehe..dan kuatkan telinga saya J
My friend’s note for me : “24 isn’t almost near to your half life. There’re still lots to be done during your “man time” to be written in your book of life.”
Subscribe to:
Posts (Atom)