Tuesday, April 5, 2011

Biarkan dewasa itu jadi pilihan, bukan kewajiban.

Menjadi dewasa itu pilihan. Yang menjadi kepastian itu kalo kita jadi tua. Being 24 is in the front of the “Gate of adultness”. Ada banyak hal yang akan kita tinggalkan setelah lepas dari masa remaja. If we still remember it, when we was a teenager we were so bubbly, happy, fun and simple. Belum puas saya menikmatinya, eeeehhh…datanglah si factor “U” , UMUR. Diumur segini, saya masih merasa banyak hal yang bisa saya eksplorasi, saya masih bisa mencoba banyak hal..masih mau nakal, senang – senang dan having fun. Tapi buat orang disekelilingi saya, umur segitu sudah pantas di tanyai , “kapan married?”..”sudah punya calon belum?”. Saya belum punya calon…masih dalam tahap recovery.  Saya belum punya pasangan, karena saya masih memikirkan 1 orang. Dia menyenangkan sekaligus menyebalkan. Aaaahhhh…saya dulu gak begini lho. Kalo putus, ya udah putus aja. Gak pake menangis berlama-lama lalu VOILA! Sudah dapat cowok baru! Hahahaha…sekarang, saya susah melakukan hal yang sama. Bukan saya yang gak mau lho..tapi memang gak bisa. Laki- laki itu sudah penuh sesak di hati saya.Coba klo saya masih jadi remaja..I DON’T CARE AT ALL!  Aaaaaahhh….I miss being teenager! Hehehehe. Menyenangkannya jadi remaja, saya gak pernah main hati waktu itu. Gak pernah sepenuh hati mencintai orang lain. Gak pernah pusing memikirkan hal-hal lain selain diri saya sendiri. Bahagianya masa itu lama-lama tergerus pekerjaan, tanggung jawab dan tuntutan lingkungan untuk, harus dan WAJIB bersikap dewasa. Padahal saya belum puas..even though I look mature outside, still I have my childish part inside it. Saya  benci dituntut untuk jadi dewasa, saya masih KANAK-KANAK! Saya mau menikmati hidup saya seperti dulu. Gak mikir aneh-aneh..jadi tolong, berhenti bertanya, apa saya sudah punya calon suami? Kapan saya mau married?. Biarlah Tuhan yang atur hidup saya. Biar Tuhan yang tentukan, hidup saya sudah penuh stress dengan kerjaan dan masalah lain..jangan ditambah lagi dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Saya sedang belajar meyakinkan diri saya bahwa Tuhan sudah siapkan jodoh, lelaki yang nantinya akan memeluk saya, menciumi saya sampai tua..sampai nanti Tuhan pula yang pisahkan kami. Sampai saat itu tiba, kuatkan hati saya ya Tuhan?hehehe..dan kuatkan telinga saya J

                                                                                                                                                                                    
My friend’s note for me : “24 isn’t almost near to your half life. There’re still lots to be done during your “man time” to be written in your book of life.”

No comments:

Post a Comment